Kamis, 09 Desember 2010

PENERAPAN METODE COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION DALAM RANGKA MENINGKATKAN KECERDASAN BAHASA

PENERAPAN METODE COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION DALAM RANGKA MENINGKATKAN KECERDASAN BAHASA
DI TK PERTIWI BANGO
KECAMATAN DEMAK KABUPATEN DEMAK
TAHUN 2010



Diajukan sebagai kegiatan pengembangan provesi untuk memenuhi sebagian syarat lomba Kepala Taman Kanak-Kanak Berprestasi

Disusun oleh :
NAMA : KUSTI’AH, S.Pd
NIP : 19650620 198702 2 003
HP : 085290663711
UNIT KERJA : TK PERTIWI BANGO
KEC. DEMAK KAB. DEMAK
TELP. (0291) 4284484

UPTD PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA
KECAMATAN DEMAK KABUPATEN DEMAK
TAHUN 2010

KATA PENGANTAR


Alhamdulillahirobbil alamin berkat rahmat dan hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa saya bisa menyelesaikan Karya Tulis, dengan judul Penerapan Metode Cooperative Learning Tipe Group Investigation Dalam Rangka Meningkatkan Kecerdasan Bahasa di TK Pertiwi Bango Kecamatan Demak Kabupaten Demak sebagai prasyarat Lomba Kepala TK Berprestasi Kabupaten Demak Tahun 2010, walaupun masih banyak kekurangan, inilah sumbangsih saya kepada dunia pendidikan, khususnya pendidikan di Taman Kanak-Kanak.
Penyempurnaan Kurikulum dan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan yang akan datang sangat menuntut kita untuk meningkatkan sumber daya manusia guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di Taman Kanak-Kanak.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ini tak dapat terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Demak
2. Pengawas TK / SD Kecamatan Demak
3. Kepala TK Pertiwi Bango yang sekaligus melaksanakan penerapan supervisi ini
4. Rekan-rekan guru TK Pertiwi Bango Kecamatan Demak
5. Ketua Komite dan bidang-bidang / seksi Komite Sekolah
6. Ketua penyelenggara TK Pertiwi Bango Kecamatan Demak
Akhirnya penulis memohon maaf apabila dalam laporan karya tulis ini jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharap kritik dan saran demi peningkatan dan penyempurnaan karya tulis ini.

Demak, Mei 2010

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii

BAB I PENDAHULUAN 1
1. Latar Belakang Masalah 1
2. Permasalahan 3
3. Strategi Pemecahan Masalah 3

BAB II PEMBAHASAN 7
1. Alasan Pemilihan Strategi Pemecahan Masalah 12
2. Hasil atau Dampak yang Dicapai 13
3. Kendala-Kendala yang Dihadapi 14
4. Faktor-Faktor Pendukung 14
5. Alternatif Pengembangan 15

BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI OPERASIONAL 16
1. Simpulan 16
2. Rumusan Rekomendasi Operasional untuk Implementasi
Temuan 16

PENGESAHAN 18
DAFTAR PUSTAKA 19
BAB I
PENDAHULUAN


1. Latar Belakang Masalah
Perubahan telah terjadi di mana-mana, termasuk di dunia pendidikan. Dunia pendidikan secara terus-menerus mengalami proses perubahan dan perkembangan. Perkembangan ini berawal dari tidak ada menjadi ada, dari yang sudah ada menjadi lebih baik, dan yang sudah baik menjadi lebih baik dan sempurna, dan seterusnya. Proses perubahan yang terjadi di dunia pendidikan kita saat ini secara tidak langsung menyebabkan terjadinya pergeseran paradigma dalam masyarakat.
Salah satu tuntutan masyarakat terhadap dunia pendidikan kita adalah mampu menciptakan manusia yang memiliki kemampuan dalam melakukan kerja sama dengan orang lain. Keinginan ini tidak bisa diindahkan begitu saja oleh dunia pendidikan kita, begitu pula oleh lembaga formal Taman kanak-kanak. Taman Kanak-kanan sebagai lembaga pendidikan formal yang terendah juga harus mampu menanamkan sikap kerja sama dengan orang lain dengan melakukan kreativitas dalam melakukan proses pembelajaran di sekolah, namun juga tidak bisa melepaskan begitu saja prinsip ”Belajar sambil bermain, bermain seraya belajar” dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Di samping itu perlu juga diperhatikan bahwa batasan pembelajara pada lembaga TK adalah tidak menargetkan pada suatu hasil, tetapi pada prosesnya. Jika prosesnya benar dan baik, secara otomatis hasilnya juga akan baik, bahkan bisa di luar dugaan.
Berdasarkan dari persoalan yang ada dan berpatokan pada Kurikulum Berbasis Kompetensi TK 2004, yang di dalamnya terdapat dua formula besar yang harus dikembangkan, yaitu pembentukan perilaku dan pembentukan kemampuan dasar, pembentukan perilaku dijabarkan ke dalam empat poin, di antaranya : moral dan nilai-nilai agama; sosial; emosional; dan kemandirian. Adapun kemampuan dasar juga dijabarkan ke dalam empat poin juga, yaitu berbahasa; kognitif; fisik / motorik; dan seni. Penulis melakukan pengamatan terhadap permasalahan yang terjadi di TK Pertiwi Bango, bahwa salah satu kecerdasan yang harus tergali oleh siswa TK, yaitu Kecerdasan Bahasa. Siswa pada TK Pertiwi Bango sangatlah rendah. Hal ini bisa dilihat dari beberapa faktor di bawah ini.
a. Kemampuan siswa untuk berbicara secara lancar rendah
b. Kekayaan kosakata siswa yang masuk dalam kategori baik hanya sedikit
c. Kemampuan siswa dalam mengungkapkan ide atau gagasan hanya sedikit
d. Kemampuan siswa dalam menceritakan isi cerita tentang gambar yang ada secara berurutan hanya sedikit
Permasalahan yang terjadi tidak terlepas dari kurangnya wawasan guru dalam memilih dan menerapkan metode yang tepat untuk digunakan dalam mengembangkan kecerdasan bahasa pada anak.
Kondisi seperti ini tidak bisa didiamkan begitu saja. Karena, jika penerapan proses awal salah, hal ini sudah bisa dipastikan bahwa proses selanjutnya juga akan mengalami kegagalan. Dengan demikian, perbaikan proses pembelajaran di tingkat lembaga formal TK ini.
Berdasarkan permasalahan di atas, sangatlah penting bagi penulis untuk mencoba menerapkan penggunaan metode cooperative learning tipe group investigation dalam meningkatkan kecerdasan bahasa di TK Pertiwi Bango Kecamatan Demak Kabupaten Demak. Metode ini merupakan salah satu metode yang tidak hanya mampu mengajak siswa untuk memiliki emosional yang baik dalam berhubungan dengan temannya, tetapi juga mampu menggali kemampuan berkomunikasi yang dimiliki oleh anak.
Dapat disimpulkan bahwa akar permasalahan yang terjadi adalah penggunaan metode yang kurang tepat dalam melakukan proses belajar mengajar dalam kegiatan pengembangan kemampuan berbahasa, sekaligus memenuhi tuntutan masyarakat dalam membekali anak untuk memiliki sikap kerja sama. Permasalahan ini dapat diatasi dengan menggunakan metode cooperative learning tipe group investigation yang tidak hanya melatih anak untuk mengasah emosionalnya, tetapi juga menggali kemampuan anak dalam berkomunikasi melalui kegiatan cerita bergambar.
Berdasarkan uraian di atas, penulis mengangkat judul ”Penerapan Metode Cooperative Learning Tipe Group Investigation Dalam Rangka Meningkatkan Kecerdasan Bahasa Pada Siswa di TK Pertiwi Bango Kecamatan Demak Kabupaten Demak”.

2. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, masalah karya tulis ini dapat dirumuskan ”Apakah penerapan metode cooperative learning tipe group investigation dapat meningkatkan kecerdasan bahasa melalui proses kegiatan cerita bergambar pada siswa di TK Pertiwi Bango Kecamatan Demak Kabupaten Demak?”

3. Strategi Pemecahan Masalah
Untuk penerapan metode cooperative learning tipe group investigation di TK Pertiwi Bango Kecamatan Demak Kabupaten Demak ada strategi pemecahan masalah yaitu :
1. Seleksi Topik
Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik, maupun kelompok akademik.
2. Merencanakan Kerja Sama
Para siswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas, dan tujuan umum (goals) yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih pada langkah 1 di atas.
3. Implementasi
Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah 2. Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan keterampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber, baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.
4. Analisis dan Sintesis
Para siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang diperoleh pada langkah 3 dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
5. Penyajian Hasil Akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencari suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinasikan oleh guru.
6. Evaluasi
Selanjutnya, guru beserta para siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individual atau kelompok, atau keduanya.
Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran group investigation adalah salah satu tipe dari pembelajaran cooperative learning yang mengajak siswa untuk berperan serta dalam penentuan topik, kebebasan dalam mengemukakan pendapat, dan menuntut siswa untuk melakukan kerja sama dengan anggota kelompoknya.
Agar dalam penerapan model pembelajaran tipe group investigation, seorang instruktor, dalam hal ini adalah pengajar atau guru harus memahami tentang dasar-dasar dari cooperative learning. Guru juga membutuhkan kemampuan dalam mengkondisikan situasi yang aktif agar bisa bersama-sama dengan siswa menentukan topik yang dibahas. Guru juga harus mampu mengolah siswa untuk mengembangkan keterampilan sosialnya seperti dalam berkomunikasi, konflik manajemen, pengambilan keputusan, kepemimpinan, dan membangun kepercayaan.

Tahapan Operasional Pelaksanaannya
Berdasarkan uraian tentang pembelajaran cooperative learning tipe group investigation dapat digambarkan bahwa metode pembelajaran ini mampu mengakomodasi keempat aspek kecerdasan, yaitu : kecerdasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual pada lembaga TK. Pada karya tulis ini akan dikembangkan kecerdasan intelektual bahasa pada anak tanpa mengesampingkan tiga aspek kecerdasan yang lainnya. Langkah-langkah dalam menerapkan model pembelajaran cooperative learning tipe group investigation disesuaikan dengan prinsip pembelajaran di TK.
Adapun langkah-langkah yang diterapkan pada proses pembelajaran di lingkungan TK Pertiwi Bango adalah sebagai berikut :
a. Guru membagi kelas menjadi 6 kelompok yang heterogen
b. Guru menjelaskan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut :
1) Anak mengikuti guru bercerita
2) Anak berdiskusi atau kerja kelompok untuk menyampaikan ide yang terdapat dalam gambar
3) Anak yang dapat menyampaikan ide dari gambar tersebut akan diberikan penghargaan atau hadiah
c. Guru memperlihatkan gambar kepada anak dan membacakan tulisan sederhana yang ada kemudian menceritakannya
d. Guru membagikan gambar / alat peraga pada masing-masing kelompok (satu kelompok, satu gambar).
e. Anak mendiskusikan ide / isi dari gambar untuk mendapatkan isi cerita secara keseluruhan
f. Guru sebagai motivator, guru membantu kelompok-kelompok yang mengalami kesulitan melalui pertanyaan-pertanyaan
g. Guru memberikan kesempatan pada kelompok mana yang telah siap menceritakan isi gambar yang telah didiskusikan (secara kelompok)
h. Secara bergiliran anak menceritakan isi gambar (secara individu)
i. Guru memberikan penghargaan / hadiah pada anak yang berani bercerita di depan kelas
j. Pada saat proses pembelajaran, guru mengobservasi dan mengadakan penilaian dengan instrumen yang telah disediakan.
k. Anak dan guru menyimpulkan isi cerita pada gambar


BAB II
PEMBAHASAN


Kajian Teori
1. Kecerdasan
Istilah kecerdasan diturunkan dari kata intelegensi (Wahab, 2000 : 70). Intelegensi merupakan suatu kata yang memiliki makna yang sangat abstrak. Namun demikian, banyak ahli psikologi yang mencoba mengembangkan ikonnya dalam memahami intelegensi.
Dari berbagai macam pengertian yang dikemukakan oleh para ahli psikologi, Wahab menyimpulkan bahwa kecerdasan adalah suatu konsep abstrak yang diukur secara tidak langsung oleh psikologi melalui tes intelegensi untuk mengestimasikan proses intelektualnya.
Lebih lanjut, Wahab (2000) mengatakan bahwa intelegensi mempunyai beberapa komponen, antara lain kemampuan verbal, keterampilan pemecahan masalah, kemampuan belajar dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, dan pengalaman sehari-hari. Intelegensi adalah kesanggupan mental untuk memahami, menganalisis secara kritis, cermat, dan teliti serta menghasilkan ide-ide baru secara efektif dan efisien.

Kecerdasan Bahasa
Gardner, Howard dalam bukunya yang berjudul ”Multiple Intelligences” (1993) mengatakan bahwa skala kecerdasan yang selama ini dipakai ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang. Gambaran mengenai spektum kecerdasan yang luas telah membuat mata para orang tua maupun guru tentang adanya wilayah-wilayah yang secara spontan akan diminati oleh anak-anak dengan semangat yang tinggi. Dengan demikian, masing-masing anak tersebut akan merasa pas menguasai bidangnya masing-masing. Bukan hanya cakap pada bidang tersebut yang memang sesuai dengan minatnya, melainkan juga akan sangat menguasainya sehingga menjadi amal. Para ahli lebih lanjut mengatakan bahwa terdapat unsur kecerdasan. Salah satunya adalah kecerdasan verbal linguistik atau yang lebih dikenal dengan istilah kecerdasan bahasa. Kecerdasan bahasa ini berkaitan dengan kemampuan menggunakan kata-kata dan memanfaatkan bahasa untuk mengekspresikan pengertian yang kompleks secara efektif.
Kecerdasan bahasa tidak hanya sekedar bisa menulis dan bisa membaca secara harfiah sesuatu yang seringkali kita banggakan pada anak-anak kita di usia TK tetapi juga berkaitan dengan kemampuan untuk mencerna apa yang dibaca dan menuangkan apa yang dipikirkan. Anak-anak dengan kecerdasan ini biasanya senang bercerita dan kaya kosakata (Tim Pustaka Famili, 2006 : 82).
Menurut Gardner (1993), kecerdasan bahasa memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya.
Anak-anak dengan kecerdasan bahasa yang tinggi, umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa, seperti : membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara, dan sebagainya. Anak-anak seperti ini juga cenderung memiliki daya ingat yang kuat, misalnya terhadap nama-nama seseorang, istilah-istilah baru, maupun hal-hal yang sifatnya detail. Mereka cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal penguasaan suatu bahasa baru, anak-anak ini umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak lainnya.
Mayer dan Salovey (1997) mengungkapkan ada lima ranah kecerdasan emosional di dalam bahasa, yaitu (1) mengenali emosi sendiri, (2) mengatur emosi, dan (3) memotivasi (4) mengenali emosi orang lain, dan (5) membina hubungan dengan orang lain.


(1) Mengenali Emosi Sendiri
Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan. Akhirnya, tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya yang berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah.
(2) Mengatur Emosi
Mengatur emosi berarti menanggapi perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat. Hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan, dan bangkit kembali dengan cepat dari semua itu. Sebaliknya, orang yang buruk kemungkinannya dalam mengelola emosi akan terus-menerus bertarung melawan perasaan murung atau melarikan diri pada hal-hal negatif yang merugikan dirinya sendiri.
(3) Memotivasi Diri
Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui berikut, yaitu : a) cara mengendalikan dorongan hati; b) derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang; c) kekuatan berpikir positif; d) optimisme; e) keadaan flow (mengikuti aliran), yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi, pekerjaannya hanya terfokus pada suatu objek. Dengan kemampuan memotivasi diri yang dimilikinya, seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya.



(4) Mengenali Emosi Orang Lain
Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain. Sebaliknya, orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain.
(5) Membina Hubungan dengan Orang Lain
Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. tanpa memiliki keterampilan, seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial. Sesungguhnya karena tidak dimilikinya keterampilan-keterampilan semacam inilah yang menyebabkan seseorang seringkali dianggap angkuh mengganggu atau tidak berperasaan.
Hal yang hampir senada juga dikemukakan oleh Robert Coles dalam bukunya yang berjudul ”The Moral Intellegence of Children”, (1997) bahwa di samping IQ, ada suatu jenis kecerdasan yang juga memegang peranan amat penting bagi kesuksesan seseorang dalam hidupnya.
Hal ini ditandai dengan kemampuan seorang anak untuk bisa menghargai dirinya sendiri maupun diri orang lain, memahami perasaan terdalam orang-orang di sekelilingnya, dan mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Semua ini merupakan kunci keberhasilan bagi seorang anak di masa depan.

2. Pembelajaran Cooperative Learning
Cooperative learning adalah model pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang lebih silih asah, silih asih, dan silih asuh antarsesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata (Abdurahman dan Bintoro, 2000 : 78).

Falfasah yang mendasari model cooperative learning dalam pendidikan adalah falsafah homo homini socios. Berlawanan dengan teori Darwin, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Tanpa kerja sama atau kooperatif, tidak akan ada individu, keluarga, organisasi, atau sekolah (Lie, 1999 : 28).
Dalam konteks di atas, Johnson dan Smith (1991) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning.
Lie (2000 : 90) berpendapat bahwa cooperative learning bertujuan untuk menghasilkan manusia yang bisa berdamai dan bekerja sama dengan sesamanya. Selain itu, suasana yang positif timbul dari metode cooperative learning bisa memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencintai pekerjaan dan sekolah. Dalam kegiatan-kegiatan yang menyenangkan ini, siswa merasa lebih terdorong untuk belajar dan berpikir.
Dapat disimpulkan bahwa esensi dari cooperative learning terletak pada tanggung jawab individu, sekaligus kelompok, sehingga dalam diri setiap siswa tumbuh dan berkembang sikap-laku saling ketergantungan (independent) secara positif. Dengan demikian menjadikan belajar melalui kerja sama dalam kelompok akan berjalan seoptimal mungkin. Kondisi ini dapat mendorong siswa untuk belajar, bekerja, dan bertanggung jawab sampai tujuan dapat diwujudkan.

3. Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Group Investigation
Sharan tahun 1991 mengembangkan model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok atau yang lebih populer dengan istilah group investigation yang semula dirancang oleh Horbert Thelan. Pembelajaran ini dimaksudkan untuk membina sikap tanggung jawab dan bekerja sama dalam kelompok, dan membina sikap saling menghargai pendapat anggota kelompok serta membiasakan untuk berani mengungkapkan pendapat.
Basically, group investigation involves the integration of four essential features : investigation interaction interpretation and intrinsic motivation (Sharan & Sharan, 1992).
Ciri-ciri dari pembelajaran group investigation adalah adanya kegiatan penyelidikan, interaksi hubungan (timbal-balik), interpretasi, dan motivasi diri. Pembelajaran dengan menggunakan model group investigation sangat sesuai dengan filosofi dari Jon Dewey yang menyebutkan bahwa ”The students would have experienced meaningful learning if they have been exposed to the stages of scientific inquiry”. Dengan demikian, melalui pembelajaran ini dapat membantu siswa untuk “learn how to learn” (Sharan & Sharan, 1992).
Untuk menghindari perbedaan pemahaman bebrapa istilah yang digunakan dalam judul dan pernyataan karya tulis perlu diberikan penjelasan sebagai berikut.
a. Kecerdasan bahasa adalah kecerdasan yang memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya. Indikator peningkatan kecerdasan bahasa adalah pertambahan perbendaharaan kosakata, kecakapan dalam mengolah kata, dan bercerita.
b. Metode cooperative learning adalah pembelajaran dalam kelompok-kelompok kecil yang siswanya belajar dan bekerja sama untuk mencapai tujuan seoptimal mugkin.
c. Metode cooperative learning tipe group investigation adalah salah satu tipe dari pembelajaran cooperative learning yang mengajak siswa untuk berperan serta dalam penentuan topic, kebebasan dalam mengemukakan pendapat, dan menuntut siswa untuk melakukan kerja sama dengan anggota kelompoknya.

1. Alasan Pemilihan Strategi Pemecahan Masalah
Ada beberapa alasan pemilihan strategi pemecahan masalah dalam penerapan metode cooperative learning tipe group investigation :


a. Bagi Anak / Siswa
1. Meningkatkan kecerdasan bahasa
2. Menanamkan sikap emosional yang baik pada anak dalam melakukan kerja sama
3. Meningkatkan kemampuan siswa untuk berbicara secara lancar
4. Meningkatkan kekayaan kosakata siswa
5. Meningkatkan kemampuan siswa dalam mengungkapkan ide atau gagasan
6. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menceritakan isi cerita tentang gambar yang ada secara berurutan
7. Meningkatkan makna kerja sama
b. Bagi Guru
1. Menambah wawasan guru tentang metode pembelajaran yang bisa diterapkan di Taman Kanak-kanak
2. Meningkatkan keterampilan dalam penggunaan metode yang tepat dalam proses pembelajaran
3. Meningkatkan keterampilan guru dalam memilih alat pembelajaran yang tepat
4. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan kualitas profesional guru dalam melakukan pembelajaran
5. Meningkatkan minat untuk melakukan pembaharuan / inovatif
6. Meningkatkan pemahaman tentang metode

2. Hasil atau Dampak Yang Dicapai
Dari penerapan metode cooperative learning tipe group investigation diperoleh hasil atau dampak sebagai berikut :
a. Anak dapat bekerja sama dengan baik oleh semua kelompoknya
b. Anak dapat berbicara lancar dalam menceritakan gambar
c. Anak mempunyai kekayaan kosakata
d. Anak mempunyai kemampuan mengungkapkan ide / gagasan cerita
e. Anak dapat menceritakan gambar secara urut
3. Kendala-Kendala Yang Dihadapi
Ada beberapa kendala dalam penerapan metode cooperative learning tipe group investigation sebagai berikut :
a. Anak masih malu dan belum terbiasa untuk bercerita di depan kelas
b. Anak masih merasa belum terbiasa mengutarakan ide atau gagasannya
c. Anak masih sulit menggunakan kosakata dalam kegiatan berbicara dan bercerita
d. Yang berani maju ke depan kelas belum semuanya

4. Faktor-Faktor Pendukung
Ada beberapa faktor pendukung terlaksananya penerapan metode cooperative learning tipe group investigation sebagai berikut :
a. Silabus
Silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolaan kelas yang digunakan sebagai landasan dalam penyusunan RPP.
b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP adalah perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun tiap putaran. Dalam RPP, memuat kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran, skenario pembelajaran, alat peraga, penilaian, dan kegiatan belajar mengajar.
c. Lembar Observasi Siswa
Lembar obsevasi ini digunakan untuk memantau setiap perkembangan siswa mengenai kemampuan bercerita yang menjadi patokan dalam pengukuran tingkat kecerdasan bahasa siswa.
d. Lembar Observasi Guru
Lembar observasi ini disusun untuk memantau perkembangan dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Penguasaan terhadap metode yang dipakai serta penguasaan khas dalam menerapkan metode.

5. Alternatif Pengembangan
Di dalam penerapan metode cooperative learning tipe group investigation ini ada alternatif pengembangan yaitu :
a. Penerapan metode cooperative learning tipe group investigation karena dapat meningkatkan kemampuan berbahasa siswa maka perlu dimanfaatkan dan disosialisasikan kepada guru atau TK lain.
b. Pembelajaran dengan menggunakan metode cooperative learning tipe group investigation mampu mengarah kecerdasan emosi anak, hubungan dengan orang lain, membiasakan anak untuk bekerja sama dalam kelompok kecil maka perlu ditingkatkan dan disosialisasikan kepada guru atau TK lain.
c. Penerapan metode cooperative learning tipe group investigation karena dapat menambah wawasan guru dalam menerapkan metode dan melatih keterampilan guru dalam mengelola kelas maka perlu ditingkatkan dan disosialisasikan kepada guru atau TK lain.

BAB III
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI OPERASIONAL


1. Simpulan
Bedasarkan hasil penerapan metode cooperative learning tipe group investigation yang telah dilaksanakan di TK Pertiwi Bango Kecamatan Demak Kabupaten Demak, dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode cooperative learning tipe group investigation sangat tepat untuk meningkatkan kecerdasan bahasa siswa melalui kegiatan bercerita. Secara khusus, karya tulis ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Penerapan metode cooperative learning tipe group investigation dapat meningkatkan kemampuan berbahasa siswa di TK Pertiwi Bango Kecamatan Demak Kabupaten Demak.
2. Pembelajaran dengan menggunakan metode cooperative learning tipe group investigation juga mampu mengasah kecerdasan emosi anak, yang berkaitan dengan dengan hubungan dengan orang lain. Karena, metode ini membiasakan anak untuk bekerja sama dalam kelompok kecil.
3. Di samping itu juga dengan penerapan metode cooperative learning tipe group investigation pada TK Pertiwi Bango Kecamatan Demak Kabupaten Demak menambah wawasan guru dalam memilih strategi dan metode yang tepat untuk diterapkan di kelas dan disesuaikan dengan tujuan dari setiap pembelajaran yang diadakan. Selain itu, melatih keterampilan guru dalam mengelola kelas.

2. Rumusan Rekomendasi Operasional Untuk Implementasi Temuan
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang diuraikan sebelumnya serta data dan bukti nyata yang didapat setelah penerapan metode cooperative learning tipe group investigation yang ternyata mampu mengasah dan meningkatkan kemampuan berbahasa anak serta membekali skill life pada anak, penulis merekomendasikan :
a. Penerapan Lebih Lanjut
Mengingat pelaksanaan penerapan ini hanya berjalan dengan subjek yang cukup banyak dalam satu kelas, penulis atau guru lain diharapkan dapat melanjutkan untuk mendapatkan temuan yang lebih signifikan.
b. Penerapan Hasil Karya Tulis Ilmiah
Mengingat metode cooperative learning tipe group investigation telah terbukti mampu mengasah dan meningkatkan kemampuan berbahasa anak serta membekali skill life pada anak, diharapkan guru lain mau mencoba model pembelajaran ini. Selain itu, selalu mempersiapkan dengan baik sebelum melakukan pembelajaran, seperti metode pendekatan dalam kelas, trik ketika anak mulai jenuh, metode pendekatan dalam memotivasi siswa, dan persiapan-persiapan yang lain.

UPTD PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA
KECAMATAN DEMAK KABUPATEN DEMAK
Jl. Diponegoro No. 3 Telp. (0291) 685709 Demak

Nomor : Kepada Yth.
Lampiran : 1 bendel Kepala Dinas Pendidikan Pemuda
Perihal : Pengesahan dan Olah Raga Kabupaten Demak



Berdasarkan hasil pengamatan kami dilapangan bahwa karya tulis yang berjudul : Penerapan Metode Cooperative Learning Tipe Group Investigation Dalam Rangka Meningkatkan Kecerdasan Bahasa di TK Pertiwi Bango Kecamatan Demak Kabupaten Demak Tahun 2010, yang dibuat oleh :

N a m a : KUSTI’AH, S.Pd
N I P : 19650620 198702 2 003
Tempat Tanggal Lahir : Demak, 20 Juni 1965
Pangkat / Golongan Ruang : Pembina IVa
J a b a t a n : Kepala Taman Kanak-Kanak
Unit Kerja : TK Pertiwi Desa Bango UPTD Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kecamatan Demak Kabupaten Demak

Benar-benar murni hasil karyanya.
Demikian hasil pengamatan, semoga dapat dipergunakan semestinya.


Demak, Mei 2010
K e p a l a


KHOLIDIN, SH.MM
NIP. 19630416 1988 1 006

DAFTAR PUSTAKA


Abdurrahman, M & Bintoro, T. 2000. Memahami dan Menangani Siswa dengan Problem Belajar. Jakarta : Depdiknas.
Anam, K. 2000. Implementasi Cooperative Learning dalam Pembelajaran Geografi, Adaptasi Model Jigsaw dan Field Study. Buletin Pelangi Pendidikan. 3 (2) 1 – 3.
Dhieni Nurbiana, 2005. Metode Pengembangan Bahasa. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka : Jakarta.
Lie, A. 2000. Cooperative Learning : Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta : Grasindo.
Mustaji. 2000. Pengembangan Desain Pembelajaran dengan Pendekatan Konstruktivistik pada Mata Pelajaran Kuliah Difusi Inovasi Pendidikan. Tesis Dalam. Malang PPS Universitas Negeri Malang.
Sharan, Y. & Sharan, S. 1994. Group Investigation in the Cooperative Classroom. In :
Slavin, R.E. 1995. Cooperative Learning Theory and Practice. Boston : Allin and Bacon.
Tim PG-PAUD Universitas Terbuka. 2009. Analisis Kegiatan Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Terbuka : Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar